Jadi 3 tahun yang lalu gw sama temen ikutan sebuah ujian technical di Mitrais Jakarta (buat kerja di Mitrais Bali) dan somehow kita berdua lulus, soalnya sendiri adalah kombinasi matematika, logika, sedikit algoritma dan database (for those yang mampir kesini karena mencari kunci soal, saya tidak akan membahasnya
)
Was merely a fresh graduate back then, berbekal pendidikan 4 tahun dan CV yang diolah sedemikian rupa agar menarik, plus pengalaman kerja freelance di beberapa project kecil, dengan meyakinkan diri dengan “I know I am smart and skillful enough to be the best“, mungkin keyakinan diri itu salah, tapi itu satu hal yang gw coba tekankan sama diri gw sendiri waktu itu, agar ga keliatan kaya anak baru lulus IT pendiem, pemalu, ga jago-jago amat, ga jelas yang ga tau maunya apa.
Walo mesti keliatan pede, ada pride-pride yang itu mesti disupress though, ga boleh bener-bener ditunjukin, kenapa? ya lebih ke soal manner dan memposisikan diri aja
Ada check list yang mesti dicek
- I may believe I am good, but how experienced I am?
- Apa gw lulusan universitas ternama?
Intinya sih, secara technical mungkin kamu jadi acuan teman-teman sekuliahanmu dulu, asdos ini dan itu, ngerasa paling pinter sekampus, atau ngerasa jago ngerjain program-program kecil pake PHP.
Tapi soal pengalaman kerja di lingkungan pekerjaan sebenarnya gimana?
Jadi dari pemikiran itu gw memulai penawaran diri dengan Average Salary Fresh Graduate tahun itu (cara mencarinya mudah kok, tinggal google aja)
3 tahun lalu itu gw belajar nilai nominal di base salary bukan segalanya, pas selesai ujian di Mitrais gw juga dipanggil interview sama sebuah kerjaan yang nawarin 6 juta perbulan di end-user,6 juta perbulan untuk Fresh Graduate di tahun 2007 itu adalah nominal yang cukup wow. Tapi kerjaan ini tidak memberikan benefit lain kaya asuransi dan kepastian status pegawai dan entah sampai kapan dia akan selesai dan dump me karena kerjaan uda beres, belum lagi kerjaan ini berpusat pada sebuah bahasa pemrograman yang I am quite confident in, jadi ga ada tantangan tambahan dan ilmu baru yang dipelajari.
Gw pernah denger dari mentor gw, untuk jangan terbutakan sama salary awal itu, gw juga mesti ngitung benefit lain seperti asuransi, gimana growthnya, apa yang bisa gw pelajari dan lingkungannya.
Because work is not all about money
Jadi keputusan besar waktu itu adalah membandingkan antara tawaran 6 juta perbulan dan less chance to learn melawan nominal average fresh graduate per-bulan dan kesempatan belajar, otak gw melakukan itungan cepat yang bakal nentuin masa depan gw.
I am still 22 years old back then, been living in Bandung all my life. So I took the chance to learn a lot of things (even with less money compared to the 6 mill per month) and of course… Bali
Tiga tahun ini berjalan dengan baik, tidak sempurna memang. Tapi pilihanĀ dan kalkulasi cepat waktu itu nampaknya benar
seperti yang mentor gw pernah bilang, dan gw mau menambahkan
Because work is not all about money (Even we need it so much)
Tiga tahun kemudian, gw melakukan interview itu lagi di Jakarta dan Jogja, kali ini menjadi orang dibalik meja, mendengarkan para Fresh Graduate menceritakan tentang apa yang mereka mau tawarkan tentang diri mereka.
I met various kind of fresh graduates, from the dramatic ones, to the funny ones
And that is another story to tell… maybe later…

yup, ga melulu soal duit sih. gaji gede tapi stress dan darah tinggi gara2 nahan emosi juga ga asik kan, apalagi klo sampe masuk penjara gara2 bunuh client rese
Wkwk, yoi.. hidup mesti Balance
kecuali kalo niatnya nyari modal trus usaha sendiri bole kali ya berkorban2 diawal
menginterview orang emang aneh2…
gua pernah menginterview orang (by phone) dan setelah nanya2 teknis, eh dia bilang sendiri kalo kayaknya gak cocok nih kerjaannya, trus udah matiin telp. aneh banget… hahaha
Haha, iyo.. kemaren tu gw dapet drama-drama aneh juga
err… quote yang pertama seharusnya “lingkungan” bukan “lingungan”…
*dikeplak omeru*
*
*maap, saya masi ngotot panggil ‘om’
Kalo editor mampir gini nih
kok minta maaf? ngeliat gw emphasis umur ya?
Iya deh dimaafin ponakan.
there’s no point having highly paid job if it can’t make u feel ‘alive’, it’ll just gonna drive u to become robots
nice to hear that you’re living your life quite well there
hope u could come by sometimes and share your life with your juniors
Ah ibu guru mampir sini,
We are the one who look how to stay ‘alive’ and kept ourself from being robot hooh
and then after that people grow
Would arrange some time then.. dunno when though.
“Because work is not all about money”
hmm..
Hmmmm ?
it is not, but I do love the travel #tepokjidat miss my monkeys though (>_<)
terlalu lama di sini membuatku terlena dan malas beranjak dari comfort zone padahal itu justru yang membahayakan ya
I am out of the comfort zone! hahahaha
Saya jadi inget sesuatu. Dosen muda di kampus saya sekarang sepertinya dulu pernah kerja di Mitrais Bali juga
and I’m sure you know her. He he, dunia ini benar-benar kecil
Hmm I know her indeed
Dosen muda? hmm…..
jadi berasa dejavu, ga, ru ?
yah.. hanya saja sekarang kebalik gitu..
Dejavu banget
jadi kadang pengen ngasi pertanyaan-pertanyaan shocking ngetest respon mereka
wah menarik nih mas,kebetulan saya mau dipanggil technical test di mitrais nih,kira” ada saran” gt mas utk tes dan interviewnya ?
Technical, ya pertanyaan simple kok.. asal teliti aja, ada algoritma, database, ada OOP juga..
general & basic semua kok
Kalau sudah interview lama gak ya sampai pengumuman selanjutnya? atau kalau misalkan gak dapat gak dihubungi?
Biasanya 2 minggu-an paling lama, Recruitment Officer pas saya yang nginterview setahu saya selalu menginform masuk atau nggaknya.
Ga tau recruitment officer yg sekarang gimana