Suatu hari ada seorang expatriat naek motor butut lewat di depan rumah sambil tersenyum, ayah saya juga tersenyum padanya.
Saya tanya beliau siapa expatriat itu karena saya baru melihatnya, beliau menjawab
Ooh wajar kalau kamu baru lihat, kamu kan baru pindah kesini kemaren. Dia itu warga sini, orang Amerika. Hidupnya sederhana, tapi bermanfaat.
Aku bingung dengan maksud “bermanfaat” yang beliau maksud, jadi aku bertanya lagi soal itu.
Iya, kemana-mana dia pake motor butut itu, mobilnya juga Toyota kijang lama yang bodynya baja semua itu. Tapi kamu tahu siapa penyumbang terbesar untuk pembangunan jalan di wilayah kita? bahkan lebih besar dari para pemilik mobil bagus yang asli kampung sini. yaaa bule itu.
Beliau tidak berhenti disana, dia terus bercerita
Dia disini tinggal bersama istrinya, mereka punya dua anak, keduanya anak yatim, diadopsi. Hebatnya dia mengadopsi mereka yang tidak lahir dengan fisik sempurna, membawa mereka ke Amerika untuk diobat, dan menyayanginya seperti anak sendiri.
Saya cuma diam, terkesan. Melihat motor bututnya itu yang makin menjauh.
Expatriat itu beda agama sama saya, tapi apa yang dia lakukan kok lebih melambangkan sebuah visi agama yang saya anut ini di benak saya daripada gerombolan orang dengan ciri tertentu yang kemana-mana meneriakkan nama Tuhan saya dengan pendekatan hajar sana hajar sini itu.
It’s called compassion. It’s the fruit of religion. Imagine a religion is a boat that takes you to shore. Once you reached that shore why do you need the boat to carry around with you? That ‘bule’ is a person who reach the shore while the other people who kick others by the name of God are kind of people who reached the shore but still carry the heavy boat wherever they go.
http://en.wikipedia.org/wiki/Charter_for_Compassion
Ooops..kedaleman ngomongnya. Anyway great story and article…
And you make me wikipediaing for 1/2 an hour for the article wkwk.
Totally agree with it.
eh ada bule toh, perasaan dulu ga pernah liat bule disono
Ada banyak, ada yang dari timur tengah, dari eropa juga ada.. variasi lah
ya gerombolan yg membuat citra buruk bagi sesuatu yg seharusnya mereka bela
ah mbuh, mas
Iya om, mbuh
wow that’s very inspiring…
saya lebih menghargai orang karena perbuatannya terlepas dari agama, ras maupun kekayaan orang tersebut…
bener salah itu relatif, om… =)
Haha relatif memang
perbuatannya benar-benar mengagumkan
kayanya emang yg beginian sih lepas dari agama, ru… kalo menurutku sih… bisa dilakukan oleh siapapun sebenernya. tinggal mau apa ga.
iya setuju sama si poo, yang kaya begini sih tergantung orangnya pus, karena pada dasarnya kan setiap agama mengajarkan nilai-nilai yang baik tapi kalau pelaksanaan atau penafsirannya jeblok bukan berarti agamanya yang salah kan
#justsaying
menurutku.. setiap orang itu punya naluri ‘kebaikan’, bahkan seorang penjahat terlahir dengan sifat kebaikan…kita menyebutnya sebagai fitrah manusia…
sifat baik seseorang akan terasah ketika dia sering berbuat baik (sehingga ia akan menekan naluri jahatnya)…nah.. sebaliknya, ketika seseorang berkecimpung terlalu lama dengan kejahatan, sifat baik yang ada dalam dirinya akan tergerus.
ketika kita kemudian condong ke arah A ato B dalam hal keyakinan..itu disebabkan selain karena orang tua kita, juga karena lingkungan kita.
Agama menjadikan kita mempunyai pegangan.. untuk melihat jelas apakah jalan ‘abu2′ yang kadang kita pilih adalah benar ato tidak.. dalam pandangan agama.
*walah.. komenku kepanjangan, ru..
maap, yak..
Gpp Put panjang-panjang.. feel free
Karena deep down semua orang itu baik tapi lingkungan yang akan merubahnya, hati yang baik itu core guidance.
Agama itu God’s core guidance yang sebenernya sama aja dengan core-guidance yang ada di hati, cuma agama lebih fokus sama praktek.
God’s core guidance ini yang kadang diterjemahkan dengan kesalahpahaman berbeda untuk tiap orang
tapi bahasa hati sih semua orang bisa nerjemahin, masalahnya mereka ngedengerin ato nggak