Tulisan ini ditulis around 2008 – so it does not reflect author di masa yang akan datang – direpublish ulang by request 🙂

Kenapa kucing itu harus terbang ke luar angkasa?
Aku selalu percaya kucing itu ada dalam misi, an endeavour, misi mulia, tujuan hidup,
takdir lah, the one lah… ya itu istilah2 umumnya. Sebuah perjalanan untuk
menemukan kucing betina. kucing yang tidak memiliki kuda putih.. hitam.. bahkan keledai..
cuma kucing tanpa boots.. tapi berpakaian astronot..
Yang siap terbang keluar angkasa untuk menemukan ekspektasinya…
Someone that can stand by him, no matter how weird he is...
Tujuan kucing itu tidak terdengar muluk-muluk kan? biar aku ulang,
just someone who can stand by him no matter the fact that he is a cat
Section A
“Setidaknya kalau kamu menggunakan alasan lain aku akan percaya, tapi ini?
Ini namanya mengiris-iris perasaan orang lain dengan sebuah alasan yang absurd”
Dia menatapku dengan muka serius, pandangan dari wajah cantiknya itu membuat
pria manapun akan mempercayainya tanpa memperdulikan logika.
“Aku mengatakan yang sebenarnya..”
Aku frustasi, kita menghabiskan 1/2 jam berputar-putar di hal yang sama, hatiku sakit,
jantungku berdebar, mataku basah.. hei.. ada saatnya pria harus menangis, tapi ini saat
paling buruk untuk membiarkan air mata meluap walau aku sangat ingin melakukannya.
“Kamu bisa mengatakan padaku kalau kamu sudah punya pacar, kamu menyukai orang lain,
bahkan aku terlalu jelek untuk tipemu…aku bisa menerimanya, bahkan aku lebih ingin mendengar semua itu sekarang… please“
Dia diam, menunduk.. aku kenal ekspresi itu, itu ekspresi yang akan aku lakukan kalau aku sedang mengatakan kejujurann tapi tidak ada seorangpun yang mempercayaiku, yup.. people don’t call me a people reader for nothing.
“Yasudah.. kalau itu maumu, kamu terlalu jelek….unt..”
Dia tidak melanjutkan, ekspresi ingin dipercaya itu makin kuat, guratannya, senyum
dipaksakan dengan lekuk mikroskopis yang hanya people reader profesional yang bisa lihat..
“Hei.. hei! jangan yang terlalu jelek… itu cuma contoh kasus!
katakan saja kamu sudah bertunangan… dan aku tidak bisa melakukan apapun soal itu.. bagaimana?”
Desperate time call for a desperate measure.
Section B
Dan itulah alasan resminya yang aku katakan pada sahabat-sahabatku yang bertanya,
tentu mereka bertanya karena beberapa bulan terakhir cerita-ceritaku pada mereka tidak
akan jauh dari gadis itu, senyumnya, semangatnya, cara dia memandang dunia yang aneh, dia unik dan aku jatuh cinta. Setelah aku dengan egois bercerita tentang satu orang yang sama terus-menerus dan mungkin (kadang) whine tentang perasaan yang meluap-luap itu, tentu saja mereka bertanya, dan mereka berhak atas jawaban.
Jawaban resminya adalah sang gadis sudah dijodohkan, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. pria itu jauh lebih baik dari aku. Titik.
Mereka tidak tahu alasan sebenarnya yang dia bilang waktu itu, aku masih ingat detail hari itu,
dan tiap aku mengingatnya, my heart skip it’s beat.
Aku tidak dapat membalas perasaanmu, karena aku berasal dari luar angkasa…
jika aku kembali, aku tidak akan ingat apapun tentang dirimu…
Dan aku mempercayainya, aku bilang sebelumnya kan kalau pria manapun akan mempercayai wajah cantik itu walaupun itu tidak logis, dan tambahan fakta kalau aku jatuh cinta padanya
menambah alasan kalau aku harus percaya.
Dan itu membuatmu menghindari memiliki kenangan-kenangan indah dengan orang-orang bumi?
Sampai sekarang, aku tidak dapat mempercayai kalau aku bertanya seperti itu
Karena berpisah itu menyakitkan, apalagi kalau kita dekat..
Itu jawabnya.
Jadi kamu memilih untuk melindungi dirimu dari perpisahan dan mengatakan ini semua padaku… Dan aku jatuh cinta sama mahkluk luar angkasa! fuck!
Frustasi, sakit.. cuma itu yang aku ingat saat mengatakan ekspresi kemarahan itu.
Dia menunjukan muka sedih, muka yang aku tahu apa artinya, muka yang ingin meraih keluar
dan mengatakan ‘aku juga mencintaimu’ tapi itu cuma keinginan, apa yang kamu inginkan bukan apa yang akan kamu lakukan. It’s a battle of thoughts and reasoning.
Maafkan aku… aku cuma… berusaha mencerna ini semua.. maafkan aku..
Dan dia mulai terisak-isak.
Leave a Reply